Wedlock
Apa yang orang tuju dalam menikah?"
Pertanyaan sekaligus pernyataan tentang tujuan menikah bikin gemes sendiri. Gimana nggak, semua alasan yang umum dijawab orang dimentahkan lagi oleh pikiran sendiri. Alasan retoris, kita punya sekebon yang bisa kita omongin. Tapi rasanya bukan itu. Bikin kita mikir ratusan kali mencari dan menggali apa sebenarnya yang orang tuju dari menikah.
Setelah memikirkan ini berhari-hari, bukan hanya dengan otak tapi juga dengan hati, hati-hati sekali. Ini hal terealistis yang bisa kita pikirkan.
Semuanya tentu saja berawal dari cinta. Perasaan ajaib yang mendorong kita mau melakukan banyak hal. Dari yang menyenangkan sampai menyakitkan. Seajaib itu yang namanya cinta. Dan kita sudah melewati hal-hal ajaib itu bersama.
Tentang menikah, orang tua kita mungkin lebih dahulu mengerti itu. Mungkin nggak disadari dari awal. Mulanya hanya mengikuti perintah agama, mungkin tradisi, mungkin karena omongan orang lain, mungkin karena hawa nafsu semata. Tapi waktu membuktikan, mereka menjalaninya bertahun-tahun.
Selama ini kita nyaman dalam lindungan tempurung keluarga yang support kita sampai saat ini. Ngurusin kita saat kita sakit, 'back up' kita saat kita bermasalah, atau sekadar menemani buat sarapan bersama-sama. But we both know, kalau ini nggak akan selamanya.
Mungkin ada kekhawatiran mereka, kalau tempurung keluarga tidak lagi bisa mensupport anak-anak mereka, jadi mereka ingin kita segera membangun tempurung kita sendiri. Memiliki partner hidup kita, karena mereka tahu dari pengalamannya bahwa kita butuh itu.
Menurut kita, kita bisa memiliki partner untuk membangun tempurung nyaman kita sendiri. Partner yang bisa berbagi tugas. Sekadar, Indri nyoba resep masakan, Riffi yang cuci piring. Atau sekadar temen ngomongin tetangga yang julid tanpa malu atau berpura. Even as partner in crime.
Bukan, bukan desakan orang tua yang mendorong kita sekarang. Bukan karena terbebani keinginan mereka. It's pure from the deepest of our heart. Pun, jika ini memang membahagiakan keluarga, lebih baik bukan?
Negara, tradisi, religi, apapun itu, mengatur orang yang ingin hidup bersama. Dus. Dari banyaknya hal yang kita kritik, kita nggak memungkiri kalau pasti ada hal baik dibaliknya. And about the nasty things, setelah kita berdua memikirkannya dengan hati, hati-hati sekali. Somehow, what's wrong with that? Itu hal yang manusiawi, which full with desire even lust. They just want to make it easier by organizing that.
It's all about someone we choose to share and care with.
Pasangan bukan sesuatu yang kita terima begitu saja, not something we 've taken for granted. Berbeda dengan keluarga yang kita nggak bisa pilih ataupun tolak, kayak kentut. Menentukan pasangan itu, seperti memilih teman hidup.
Dan kita telah yakin untuk hidup bersama, menjadi teman hidup. Melewati hari bersama, menghadapi masalah bersama, sekaligus menyelesaikannya, bersama-sama.
Kita nggak bilang hidup sendiri nggak bisa, bisa. Itu pilihan. Tapi kita memutuskan untuk menjalani hidup bersama. No just make it easier, melipat jarak dan waktu, even happier.
Kita sama-sama sepakat, menikah itu sesuatu yang spesial. Akhirnya kita punya tujuan untuk yang spesial itu, biar kita menjadi partner. Berbagi warna perjalanan hidup kita yang tersisa. Juga menyusun tujuan-tujuan baru lainnya, bersama.
Mulai saat ini, kita ingin menjalin hubungan lebih serius dengan tanggung jawab yang baru. Saling menerima dan melengkapi. Berupaya untuk membuat hidup yang tentram bersama.
Karena kita hidup di negara dengan berbagai aturannya, let's do the sacred thing to tie the knot.
Sin Cera,
Indri & Riffi